Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta kembali menghadirkan inovasi riset di bidang kesehatan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE). Tim mahasiswa lintas program studi ini mengembangkan topical powder berbasis nanostructured lipid carrier (NLC) dari tanaman pegagan (Centella asiatica) untuk membantu penyembuhan ulkus diabetikum atau luka kronis pada penderita diabetes.
Riset tersebut diketuai oleh Aurelia Bunga Calista bersama anggota tim Muthiah Atiqoh, Susanti Agustina, Afifah Jihan Kamilah, dan Bayu Ramadan. Proposal PKM-RE mereka berjudul “Pengaruh Rasio Surfaktan terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Aktivitas Biologis Asiaticoside Nanostructured Lipid Carrier (AS-NLC) Topical Powder sebagai Wound Dressing Ulkus Diabetikum secara In Vitro.”
Melalui penelitian ini, tim mahasiswa UNY memanfaatkan senyawa asiaticoside dari daun pegagan yang dikenal memiliki aktivitas antiinflamasi, antibakteri, dan mampu mempercepat pembentukan jaringan baru pada luka. Senyawa tersebut kemudian dikombinasikan dengan teknologi NLC agar lebih stabil dan memiliki bioavailabilitas yang lebih baik ketika diaplikasikan pada luka diabetik.
Ketua tim, Aurelia Bunga Calista, menjelaskan bahwa ulkus diabetikum masih menjadi persoalan serius di Indonesia karena berisiko menyebabkan amputasi hingga kematian pada pasien diabetes. “Pengobatan luka diabetik secara konvensional masih memiliki banyak keterbatasan, mulai dari risiko resistensi antibiotik hingga infeksi berulang. Karena itu kami mencoba menghadirkan inovasi wound dressing berbentuk serbuk nano yang lebih stabil, praktis, dan efektif,” ujarnya.
Dalam proses penelitian, tim melakukan ekstraksi asiaticoside dari pegagan menggunakan metode ramah lingkungan Ultrasonic-Assisted Enzyme Extraction (UAEE). Setelah itu, senyawa aktif diformulasikan menjadi sediaan topical powder berbasis NLC dengan variasi rasio surfaktan untuk mengetahui formulasi paling optimal.
Penelitian dilakukan di berbagai laboratorium FMIPA UNY, sementara karakterisasi sediaan dilakukan di laboratorium terpadu UGM dan UII. Pengujian meliputi aktivitas antiinflamasi, angiogenesis, hingga antibakteri terhadap bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) yang sering ditemukan pada luka diabetik.
Anggota tim, Muthiah Atiqoh, menambahkan bahwa inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengobatan luka diabetik berbasis bahan alam Indonesia. “Pegagan selama ini dikenal sebagai tanaman herbal, tetapi potensinya dalam teknologi farmasi modern masih sangat luas. Kami ingin menunjukkan bahwa tanaman lokal juga bisa dikembangkan menjadi inovasi kesehatan berbasis nanoteknologi,” katanya.
Selain berkontribusi dalam pengembangan fitofarmaka modern, riset ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan bahan alam lokal sebagai alternatif pengobatan.
English