Pagi hari di kampung halaman Rohmat Wibowo di Purworejo kerap dimulai dengan suara cangkul dan langkah kaki menuju sawah. Di sanalah ayahnya, Rajiya menggantungkan hidup sebagai petani, sambil sesekali menyambi berjualan dawet demi mencukupi kebutuhan keluarga. Ibunya, Sugiatmi adalah seorang ibu rumah tangga. Dari keluarga sederhana itulah Rohmat belajar arti kerja keras, kesabaran, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan.
Kini, anak petani itu mencatatkan prestasi membanggakan. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2023 tersebut berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00. Prestasi tersebut semakin bermakna karena ia merupakan penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah).
Bagi warga Singkil Wetan, Ngombol, Purworejo itu, mimpi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sempat terasa jauh. Penghasilan orang tua yang tidak menentu membuatnya ragu apakah keinginan kuliah hanya akan menjadi angan. Namun, orang tua justru menjadi sumber kekuatan terbesar. Mereka tidak menjanjikan kemewahan, hanya keyakinan sederhana: rezeki selalu punya jalan bagi mereka yang mau berusaha. “Pesan orang tua saya sederhana, jangan takut miskin asal mau sekolah dan berusaha” kenang Rohmat, Kamis (7/1/26).
Perjalanan menuju bangku kuliah pun penuh perjuangan. Dukungan kakaknya, Alfi Nugroho menjadi penopang penting, termasuk saat membantu biaya akomodasi agar Rohmat dapat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi di Yogyakarta. Dari titik itulah, tekadnya untuk mengubah masa depan keluarga semakin menguat.
Harapan itu menemukan jalannya ketika Rohmat memperoleh informasi mengenai Beasiswa KIP Kuliah dari guru BK di sekolahnya. Program tersebut menjadi titik balik yang menentukan. KIP Kuliah tidak hanya membebaskannya dari biaya UKT, tetapi juga memberikan bantuan biaya hidup yang membuatnya bisa menjalani perkuliahan dengan rasa aman. “Tanpa KIP Kuliah, mungkin saya harus berpikir ulang untuk studi lanjut. Beasiswa ini bukan sekadar bantuan dana, tapi penyelamat mimpi,” ujarnya.
Alumni SMA Negeri 3 Purworejo itu memilih UNY karena reputasinya sebagai kampus pendidikan unggulan. Ketertarikannya pada Bahasa Inggris telah tumbuh sejak kecil, bahkan sebelum ia duduk di bangku sekolah dasar. Di UNY, ia menemukan ruang untuk mengembangkan potensi tersebut secara maksimal. “Keinginan untuk mendalami Bahasa Inggris secara formal serta berbagi pengetahuan mengenai Bahasa Inggris menjadi alasan utama saya memilih program studi ini” kata Rohmat.
Ketekunan menjadi kunci prestasinya. Rohmat membiasakan diri belajar konsisten, mereviu materi secara rutin, aktif berdiskusi di kelas, dan mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Tekanan untuk menjaga IPK tinggi ia jawab dengan disiplin dan manajemen waktu yang baik, meski rasa lelah kerap menghampiri. Keaktifan di kelas juga berkontribusi besar terhadap pencapaian IPK. Ia berusaha aktif dalam diskusi, memberikan tanggapan, serta mengerjakan setiap tugas yang diberikan dosen dengan sebaik mungkin. Selain itu, fasilitas kampus seperti jaringan Wi-Fi dan ruang kelas yang memadai turut mendukung kenyamanan dan efektivitas proses belajar.
Tak hanya unggul secara akademik, Rohmat juga aktif di luar kelas. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan kampus, mulai dari kepanitiaan seminar hingga menjadi penerjemah dan pemandu bagi tamu asing. Baginya, pengalaman organisasi adalah bagian penting dari proses pembentukan karakter dan kepercayaan diri.
Di balik prestasi gemilang itu, Rohmat menyimpan satu tujuan besar: membahagiakan orang tua. Ia ingin membuktikan bahwa jerih payah ayah di sawah dan doa ibu di rumah tidak pernah sia-sia. “Semoga saya dapat berbakti kepada mereka dengan memperoleh pekerjaan yang baik serta memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi” paparnya.
Kisah Rohmat Wibowo menjadi cermin keberhasilan KIP Kuliah sebagai program afirmasi pendidikan. Lebih dari sekadar angka IPK, ceritanya adalah tentang harapan, ketekunan, dan keyakinan bahwa anak petani pun mampu berdiri sejajar dan berprestasi di perguruan tinggi. Sebuah pesan kuat bagi generasi muda bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
English