Dalam rangkaian Program Short Course antara Western Sydney University (WSU) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), para peserta mengikuti kunjungan edukatif ke Museum Gunung Merapi dan Lava Tour di kawasan Gunung Merapi. Kegiatan ini merupakan implementasi lanjutan dari workshop pagi bertajuk (Poly)Crisis in Indonesia: Understanding the Yogyakarta Paradox: Socio-Economic Dynamics, Happiness, and Mental Health. Melalui pembelajaran lapangan ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana masyarakat beradaptasi dan membangun ketangguhan dalam menghadapi bencana alam, sejalan dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Kegiatan diikuti oleh mahasiswa dan dosen Western Sydney University yang didampingi oleh Kantor Internasional UNY. Kunjungan diawali di Museum Gunung Merapi, tempat peserta mempelajari sejarah geologi Gunung Merapi yang dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Melalui berbagai koleksi, media interaktif, dan informasi edukatif yang tersedia, peserta mempelajari siklus erupsi Merapi, upaya mitigasi bencana, serta hubungan erat antara masyarakat dengan lingkungan vulkanik di sekitarnya.
Sekretaris Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan (KUIK) UNY, Prof. Anita Triastuti, S.Pd., M.A., menyampaikan bahwa kegiatan pengenalan lapangan merupakan bagian penting dari pengalaman belajar internasional yang tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga memperkuat pemahaman lintas budaya.
Tidak hanya mempelajari dampak fisik dari aktivitas vulkanik, peserta juga diajak memahami nilai budaya dan spiritual yang melekat pada Gunung Merapi. Diskusi selama kunjungan menjelaskan bagaimana masyarakat setempat membangun tradisi, kepercayaan, dan mekanisme adaptasi yang memungkinkan mereka hidup berdampingan dengan gunung berapi tersebut selama bertahun-tahun. Perspektif ini memberikan gambaran bahwa krisis tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan dimensi sosial, budaya, dan spiritual masyarakat.
Setelah kunjungan museum, kegiatan dilanjutkan dengan Lava Tour menggunakan jeep off-road yang membawa peserta menjelajahi berbagai lokasi ikonik di kawasan Merapi. Perjalanan melewati jalur berbatu, sungai kecil, serta lanskap vulkanik yang terbentuk akibat erupsi menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi para peserta. Mereka mengunjungi beberapa titik bersejarah yang terdampak erupsi dan memperoleh penjelasan langsung mengenai perubahan lingkungan akibat aktivitas vulkanik. Sensasi berkendara menggunakan jeep di medan yang menantang, dipadukan dengan pemandangan alam yang menakjubkan, menjadikan kegiatan ini tidak hanya edukatif tetapi juga penuh keseruan dan petualangan.
Melalui kegiatan seperti kunjungan ke Museum Merapi dan Lava Tour, UNY terus berkomitmen menghadirkan pengalaman pembelajaran yang menghubungkan teori dengan kondisi nyata di lapangan. Diharapkan kegiatan ini dapat memperluas pemahaman peserta mengenai ketangguhan masyarakat, keberlanjutan, dan adaptasi terhadap krisis, sekaligus memperkuat kolaborasi internasional dan pembelajaran lintas budaya antara UNY dan Western Sydney University.
English