Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) menjadi salah satu bentuk komitmen negara dalam memperluas akses pendidikan tinggi. Dukungan tersebut dirasakan secara nyata oleh Tita Aulia Rahmi, mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2022, yang berhasil menunjukkan konsistensi prestasi selama hampir empat tahun menempuh studi.
Tita, sapaan akrabnya, merupakan mahasiswa semester delapan yang berasal dari Agam, Sumatera Barat. Ia mengungkapkan bahwa KIP-K memiliki peran penting dalam keberlanjutan studinya di UNY. Keterbatasan ekonomi keluarga mendorongnya untuk mempersiapkan jalur beasiswa sejak bangku SMA. Melalui seleksi SNBT, ia dinyatakan lolos sebagai mahasiswa UNY sekaligus penerima KIP-K, yang menjadi titik balik dalam perjalanan pendidikannya. Dengan tekad kuat, akhirnya ia terbang meninggalkan kampung halamannya demi mencari masa depan yang lebih baik.
Selama menempuh pendidikan di UNY, Tita aktif mengembangkan diri melalui berbagai organisasi kemahasiswaan dan kompetisi ilmiah. Ia tercatat aktif mengikuti UKM Penelitian dan UKM Rekayasa Teknologi (RESTEK) UNY. Pengalamannya berada dalam organisasi tersebut menjadi wadah pengembangan diri sekaligus mendorong motivasinya untuk meraih berbagai capaian, di antaranya Mahasiswa Berprestasi Bidang Penalaran UNY tahun 2024 dan 2025, Juara I PKM-Riset Sosial Humaniora tingkat fakultas UNY 2024, serta lebih dari 10 prestasi lainnya di tingkat regional dan nasional. Ia juga memperoleh pendanaan nasional Program Kreativitas Mahasiswa Skim Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) selama dua tahun berturut-turut dan terlibat dalam berbagai penelitian di bidang pendidikan, sosial, dan teknologi.
Sebagai penerima KIP-K, Tita menyadari adanya tanggung jawab moral untuk menjaga prestasi dan memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan. Ia menempatkan perkuliahan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas yang dijalaninya. “Kuliah adalah fondasi, jadi saya menempatkannya sebagai poros utama. Lomba dan aktivitas lainnya saya perlakukan sebagai ruang bertumbuh, bukan pelarian. Saya terbiasa menyelesaikan tanggung jawab akademik lebih awal agar ketika ada kompetisi atau proyek tertentu, saya bisa hadir dengan fokus penuh, bukan dengan pikiran terbelah,” ujarnya. Ia memaknai tuntutan tersebut sebagai bentuk kepercayaan negara yang harus dijawab dengan kedisiplinan dan manajemen diri yang baik. Dukungan KIP-K juga memberinya rasa aman secara finansial sehingga ia dapat lebih fokus pada proses belajar dan pengembangan kompetensi.
Menutup perbincangan, Tita menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang masih ragu melanjutkan pendidikan tinggi karena kendala biaya. Ia mengajak generasi muda untuk tidak menyerah pada keadaan dan berani mencari peluang. “Jangan biarkan keterbatasan ekonomi mematikan cita-cita. Saat ini banyak peluang beasiswa dan bantuan pendidikan yang bisa diupayakan. Keadaan boleh terbatas, tetapi potensi tidak. Jika ada keinginan untuk kuliah, perjuangkan terlebih dahulu semaksimal mungkin,” ujarnya.
English