Byawara Pendidikan Khas Kejogjaan Perkuat Integrasi Budaya dalam Pendidikan Tinggi

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V dan Dewan Pendidikan DIY menyelenggarakan Byawara Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di Perguruan Tinggi Kamis (20/8) di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY. Kegiatan ini menjadi forum bersama untuk memperkenalkan, mendiskusikan, sekaligus memperkuat implementasi nilai-nilai budaya Yogyakarta dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Kepala LLDIKTI Wilayah V DIY Prof. Setyabudi Indartono menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti 244 peserta dari 123 perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS di bawah Kemdiktisaintek, perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama, maupun perguruan tinggi kementerian/lembaga lainnya. Setiap perguruan tinggi mengirimkan dua peserta, yakni pimpinan perguruan tinggi dan satu pendamping dari bidang akademik atau dosen yang memiliki keterkaitan dengan PKJ.

Menurut Prof. Setyabudi, Byawara PKJ memiliki tiga tujuan utama, yakni memperkenalkan Pendidikan Khas Kejogjaan yang berlandaskan budaya Ngayogyakarta Hadiningrat dan konsep Widya Saka Tunggal, membahas kiprah dan implementasinya di perguruan tinggi, serta menanamkan nilai-nilai PKJ kepada pimpinan, dosen, dan mahasiswa. Upaya tersebut diarahkan untuk mewujudkan sosok Jalma Kang Utama yang memiliki jiwa Satriya Ngayogyakarta: sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh.

Rektor UNY Prof. Dr. Sumaryanto menyampaikan apresiasi atas kepercayaan menjadikan UNY sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. Ia menegaskan komitmen UNY bersama perguruan tinggi di DIY untuk melaksanakan dawuh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam memperkuat pendidikan khas Kejogjaan.

“UNY tidak dapat meninggalkan empat K, yaitu kampus, kraton, kantor, dan kampung,” ujar Prof. Sumaryanto. Komitmen tersebut antara lain diwujudkan melalui penggunaan gagrak Mataraman setiap Kamis Pon. UNY juga mendorong fakultas menjadi lini depan implementasi PKJ, khususnya Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang telah mengawali pengembangan kekhasan Kejogjaan.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Brian Yuliarto mengapresiasi penyelenggaraan Byawara PKJ. Menurutnya, nilai-nilai luhur Yogyakarta seperti mangayu hayuning bawana, sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, dan golong gilig sangat relevan untuk membentuk lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus berkarakter, berintegritas, peka terhadap persoalan sosial, serta memahami akar budayanya.

Ia berharap Byawara tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan langkah konkret dan model integrasi PKJ dalam pembelajaran maupun pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan harus mampu memperpendek jarak antara ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi dengan kehidupan masyarakat. Pendidikan, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cakap secara teknis, tetapi juga harus membentuk manusia yang mampu memahami dampak ilmu, menentukan arah, serta bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.

Karena itu, nilai-nilai Kejogjaan perlu diterjemahkan menjadi laku nyata melalui pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan budaya kelembagaan perguruan tinggi. Sri Sultan memandang keraton sebagai horizon nilai, kampus sebagai pusat daya kritis berbasis pengetahuan, dan kampung sebagai ruang kenyataan hidup tempat ilmu dan nilai diuji. Ketiganya menjadi ekosistem yang saling menguatkan.

Ketua Dewan Pendidikan DIY Prof. Dr. Sutrisno Wibawa menambahkan bahwa PKJ diarahkan untuk membentuk Jalma Kang Utama dalam konteks modern dan futuristik, yakni insan yang cerdas dan unggul tanpa kehilangan jati diri serta akar budaya bangsa. Insan utama tersebut diharapkan memiliki sikap toleran, adil, cinta tanah air, berpikiran lurus, dan berorientasi pada kemaslahatan bangsa.

Nilai tersebut pada akhirnya bermuara pada filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yaitu menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan demi terciptanya kehidupan yang damai, tertib, makmur, dan lestari. PKJ diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga kedamaian, ketertiban, dan keindahan dunia.

Byawara Pendidikan Khas Kejogjaan di perguruan tinggi menjadi momentum untuk memperkuat budaya lokal sebagai bagian dari pengembangan pendidikan tinggi. PKJ diharapkan tidak sekadar menjadi pengetahuan tentang budaya Yogyakarta, tetapi dihidupkan dalam perilaku, kebijakan, proses pembelajaran, penelitian, pengabdian, serta budaya akademik sehingga mampu melahirkan insan unggul yang berakar pada nilai budaya dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

 

 

Penulis
Sudaryono
Editor
Prasetyo Noviriyanto
Kategori Humas
IKU