UNY Tawarkan Pendekatan Sirkular untuk Wujudkan Kampus Hijau di Lokakarya UI GreenMetric PTKI 2026

Komitmen perguruan tinggi dalam mewujudkan kampus hijau kembali diperkuat melalui Lokakarya UI GreenMetric untuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) 2026 yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mengusung tema “Integrasi UI GreenMetric dalam Mewujudkan Kampus Hijau Berbasis Ekoteologi”, forum ini menjadi ruang berbagi praktik baik antarkampus dalam membangun tata kelola lingkungan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Sistem Informasi Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Soni Nopembri memaparkan pendekatan UNY’s Circular Approach: Integrasi Cerdas dan Pemberdayaan Komunitas dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan. Paparan itu menyoroti bagaimana UNY membangun sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif sivitas akademika dan masyarakat.

“Pengelolaan sampah di perguruan tinggi tidak dapat lagi dipandang sebagai urusan teknis semata, melainkan harus menjadi bagian dari transformasi budaya kampus. Melalui pendekatan sirkular, kami mendorong perubahan paradigma bahwa sampah adalah sumber daya yang dapat dikelola kembali secara produktif dan berkelanjutan,” ujar Prof. Soni, Sabtu (1/5/26).

Menurutnya, pengelolaan sampah yang efektif memerlukan integrasi data, kebijakan, dan pemberdayaan komunitas. UNY, kata dia, berupaya membangun sistem yang mampu mengurangi volume sampah sejak dari sumbernya melalui pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali.

“Teknologi menjadi instrumen penting, tetapi keberhasilan pengelolaan lingkungan sangat ditentukan oleh keterlibatan manusia di dalamnya. Karena itu, kami menempatkan sivitas akademika sebagai aktor utama dalam ekosistem pengelolaan sampah berkelanjutan,” katanya. Paparan itu juga menunjukkan dinamika produksi sampah di lingkungan kampus yang terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Kondisi tersebut menuntut strategi yang lebih adaptif dan berbasis kolaborasi.

Pendekatan UNY dinilai sejalan dengan konsep ekoteologi yang menjadi tema utama lokakarya, yakni menempatkan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari nilai etis dan spiritual. Dalam konteks itu, kampus tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga agen perubahan sosial dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Kampus harus menjadi laboratorium hidup bagi praktik keberlanjutan. Ketika nilai ekologis menjadi budaya akademik, maka dampaknya tidak hanya dirasakan di lingkungan kampus, tetapi juga meluas ke masyarakat,” tambahnya.

Kontribusi UNY ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Peserta lokakarya dari berbagai PTKI di Indonesia menyambut positif pemaparan tersebut. Praktik pengelolaan sampah berbasis pendekatan sirkular yang diperkenalkan UNY dinilai dapat menjadi model yang relevan bagi kampus lain dalam mengembangkan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.

Melalui forum ini, perguruan tinggi didorong untuk tidak hanya mengejar capaian indikator keberlanjutan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya tanggung jawab ekologis. Dengan langkah nyata seperti yang dilakukan UNY, transformasi menuju kampus hijau semakin menunjukkan arah yang konkret dan berdampak luas.

Penulis
Dedy
Editor
Sudaryono
Kategori Humas
IKU 3. Dosen Berkegiatan di Luar Kampus