Transformasi komunikasi publik di era digital menuntut humas pemerintah tidak sekadar hadir sebagai penyampai informasi, tetapi terus beradaptasi, membangun sinergi, dan memperkuat kontribusinya bagi komunikasi kelembagaan yang berdampak. Pesan tersebut mengemuka dalam Konvensi Humas Pemerintah 2026 yang dihadiri Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Garuda Spark Innovation Hub Jakarta, Selasa (22/9/26).
Konvensi yang diselenggarakan Ikatan Pranata Humas (Iprahumas) Indonesia tersebut mengusung tema “Transformasi Humas Pemerintah: Bersinergi dan Berdampak dalam Komunikasi Publik Indonesia.” Forum ini menjadi ruang bagi para praktisi humas pemerintah untuk bertukar gagasan, memperkuat kompetensi, membangun sinergi, serta merumuskan langkah strategis dalam menghadapi perubahan ekosistem komunikasi publik.
UNY menugaskan Dedy Herdito, Fungsional Pranata Humas UNY, untuk mengikuti forum tersebut. Keikutsertaan UNY menjadi bagian dari upaya memperkuat wawasan dan mengikuti perkembangan praktik kehumasan pemerintah, terutama dalam menghadapi dinamika komunikasi publik yang semakin cepat dan digital.
Keynote speech Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan, Marolli Jeni Indarto, yang mewakili Menteri Komunikasi dan Digital, menekankan pentingnya kemampuan pranata humas untuk terus beradaptasi seiring perkembangan komunikasi digital.
Menurut Marolli, perkembangan teknologi komunikasi perlu diikuti dengan penguatan kerja sama dan pembaruan dalam pelaksanaan tugas kehumasan. Kesepakatan kerja yang dibangun antarlembaga menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat komunikasi kelembagaan. “Perkembangan komunikasi dan digital saat ini perlu diikuti dengan penguatan kerja sama serta pembaruan dalam pelaksanaan tugas kehumasan,” kata Marolli.
Besarnya potensi sumber daya manusia bidang kehumasan juga menjadi perhatian. Marolli menyampaikan bahwa terdapat sekitar 10.220 pranata humas di Indonesia. Jumlah tersebut menjadi kekuatan penting dalam mendukung komunikasi pemerintah kepada masyarakat. Keberadaan pranata humas yang tersebar di berbagai instansi, lanjutnya, merupakan modal strategis untuk memperkuat penyampaian informasi publik di tengah perubahan ekosistem komunikasi digital.
Pesan mengenai pentingnya transformasi komunikasi publik kemudian diperdalam melalui sesi pleno dan talkshow bertajuk “Strategi Komunikasi sebagai Fondasi Humas Pemerintah yang Berdampak”. Sesi tersebut menghadirkan akademisi bidang komunikasi publik Dr. Rully Nasrullah, praktisi kehumasan dan komunikasi kebijakan dari ThinkPolicy Andhyta Firselly Utami, Ketua Tim Perumus Kebijakan Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi Andi Muslim serta Wahyu Aji dari Good News From Indonesia.
Konvensi juga menghadirkan pemaparan mengenai best practice dari Yustinus Prastowo, Wakil Koordinator Staf Khusus Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Gustiasa Muhammad, Director of Corporate and Public Affairs Edelman Indonesia dan Direktur Pemberitaan Antara Virgandhi Prayudanto. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan rekomendasi konvensi serta apresiasi Iprahumas kepada para pemangku kepentingan.
Bagi UNY, keikutsertaan dalam forum tersebut menjadi momentum untuk membawa pulang wawasan dan praktik baru yang relevan dengan penguatan komunikasi kelembagaan. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat mendukung upaya UNY dalam memperkuat penyebarluasan informasi kepada publik sekaligus merespons perubahan pola komunikasi di era digital.
Transformasi humas pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa cepat informasi disampaikan, tetapi bagaimana komunikasi mampu membangun keterhubungan, memperkuat kepercayaan, dan menghadirkan dampak bagi publik.
English