Pendidikan Seni Rupa UNY Gelar Workshop Wayang Kulit di Vietnam, Perkuat Diplomasi Budaya Indonesia

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terus memperluas kiprahnya di tingkat internasional sebagai bagian dari upaya menuju World Class University (WCU) sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui berbagai kolaborasi akademik dan budaya. Tidak hanya menerima kunjungan akademisi dari luar negeri, UNY juga aktif hadir langsung di berbagai perguruan tinggi mitra mancanegara.

Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Wayang Kulit oleh tim Departemen Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY di dua perguruan tinggi terkemuka Vietnam, yaitu VNU University of Social Sciences and Humanities (USSH) dan Hanoi University (HANU). Kedua institusi tersebut merupakan mitra strategis UNY dalam pengembangan pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia. USSH memiliki program Studi Asia Tenggara yang memuat pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia, sementara HANU menyelenggarakan program kursus bahasa Indonesia bagi mahasiswanya. VNU University of Social Sciences and Humanities dan Hanoi University

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Guru Besar yang diketuai oleh Prof. Dr. Drs. Iswahyudi, M.Hum., bersama tim pelaksana dari Departemen Pendidikan Seni Rupa, yakni Dedy Sartono, M.Pd. dan Dr. Aida Roihana Zuhro, M.Pd.. Workshop pertama dilaksanakan di USSH pada 6 Mei, kemudian dilanjutkan di HANU pada 7 Mei. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa berbagai program studi, mulai dari Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, Bahasa Jepang, hingga Bahasa Korea yang memiliki ketertarikan terhadap budaya Indonesia.

Dalam workshop tersebut, peserta diajak mengenal lebih dekat wayang kulit sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang sarat nilai filosofis, estetis, dan edukatif. Tidak hanya mendapatkan pemaparan mengenai sejarah dan makna simbolik wayang, para peserta juga berkesempatan mengikuti praktik langsung pembuatan wayang kulit, mulai dari proses perancangan karakter, teknik pemotongan, hingga pewarnaan.

Tim pemateri menjelaskan bahwa metode learning by doing dipilih karena mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan menyenangkan. Melalui keterlibatan langsung dalam proses kreatif, peserta tidak hanya memahami bentuk seni wayang kulit, tetapi juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai budaya Indonesia.

Sambutan positif datang dari kedua perguruan tinggi mitra. Pihak USSH menyampaikan kegembiraannya karena para mahasiswa dapat mempelajari bahasa dan budaya Indonesia langsung dari penutur asli. Sementara itu, pihak HANU berharap kolaborasi semacam ini dapat terus berlanjut dan menjadi agenda rutin setiap tahun sebagai sarana memperkuat hubungan akademik dan budaya antara kedua negara.

Antusiasme peserta juga terlihat dari berbagai tanggapan yang disampaikan setelah kegiatan. Salah satu peserta dari HANU, Thuy Duon, mengungkapkan kesannya dengan penuh semangat, "We love your workshop so much!"

Melalui kegiatan ini, UNY berharap wayang kulit tidak hanya semakin dikenal sebagai warisan budaya bangsa yang telah diakui dunia, tetapi juga menjadi sarana diplomasi budaya yang efektif dalam mempererat hubungan persahabatan Indonesia dan Vietnam. Selain memperluas pemahaman lintas budaya, kegiatan ini sekaligus memperkuat peran UNY sebagai institusi pendidikan yang aktif mempromosikan budaya Indonesia di kancah internasional. Sekaligus mendukung SDG 4 (Quality Education), SDG 17 (Partnerships for the Goals), serta SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pelestarian dan promosi warisan budaya.

Penulis
Tim Seni Kriya
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU 3. Dosen Berkegiatan di Luar Kampus