Menunda Demi Mimpi, Amalia Raih IPK 3,95 di S2 UNY Berkat Beasiswa Unggulan

Ribuan toga terangkat serempak di Gedung Olahraga (GOR) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rabu (11/2/2026). Di antara deretan wisudawan itu, terselip kisah tentang keberanian menunda, kesabaran menanti, dan keteguhan mengejar mimpi.

Amalia Nabilah Aldhamai, lulusan Program Studi Linguistik Terapan (S2), Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY, menuntaskan studinya dengan capaian nyaris sempurna: IPK 3,95. Namun, pencapaian itu tidak diraihnya dalam waktu singkat atau tanpa pertimbangan matang.

Perempuan asal Semarang tersebut sejatinya telah memendam keinginan melanjutkan studi sejak lulus S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Walisongo. Namun, ia memilih memberi jeda pada mimpinya. “Sebenarnya keinginan lanjut S2 sudah ada sejak lulus S1. Tapi sempat jeda beberapa tahun sambil mencari peluang beasiswa,” ungkapnya di sela prosesi wisuda.

Kesempatan itu datang melalui Beasiswa Unggulan (BU). Meski telah diterima pada intake sebelumnya, Amalia mengambil keputusan yang tidak mudah: menunda perkuliahan satu semester demi memastikan dukungan pembiayaan. “Sebenarnya sudah keterima di semester sebelumnya. Tapi karena saya menunggu beasiswa, akhirnya ikut semester berikutnya. Jadi mulai kuliah awal Februari 2024,” tuturnya.

Ia tercatat sebagai angkatan 2023, namun baru aktif kuliah setelah memastikan kepastian beasiswa. Bagi Amalia, studi magister bukan sekadar tentang gelar, melainkan juga kesiapan finansial dan mental. Keputusan menunda itu menjadi titik balik penting. Dengan dukungan Beasiswa Unggulan kategori umum yang ia peroleh bahkan sebelum daftar ulang, Amalia dapat fokus penuh pada perkuliahan tanpa terbebani persoalan biaya.

Meski demikian, perjalanan akademiknya tetap penuh tantangan. Di Program Terapan Linguistik, ia dituntut menghasilkan karya ilmiah dengan standar publikasi. Tekanan akademik di jenjang magister menjadi ujian tersendiri. Pada fase akhir studi, Amalia bahkan memutuskan berhenti dari pekerjaan paruh waktu agar dapat fokus menyelesaikan tesis. Ada masa-masa ia merasa ragu dan hampir menyerah. “Kemarin sempat hampir putus asa, bisa menyelesaikan tesis atau tidak. Tapi saya rutin bimbingan supaya cepat selesai,” kenangnya.

Menurutnya, tantangan terbesar studi S2 bukan hanya memahami teori, tetapi konsistensi menghadapi revisi dan tuntutan akademik yang tinggi. Kunci bertahan, katanya, adalah keberanian menghadapi proses. “Apapun kesulitannya atau komentar dari dosen pembimbing, dihadapi saja. Intinya tetap lanjut dan tidak berhenti,” ujarnya.

Berasal dari keluarga wiraswasta sederhana, gelar magister yang diraihnya bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga persembahan untuk orang tua dan pembuktian bagi dirinya sendiri. “Selain untuk orang tua, juga untuk diri sendiri. Apalagi sebagai perempuan, ingin membuktikan bahwa perempuan juga punya kemampuan untuk menempuh pendidikan tinggi,” imbuhnya.

Kini, setelah dua tahun perjuangan yang penuh dinamika, Amalia menatap langkah berikutnya. Ia berencana mencari pengalaman kerja terlebih dahulu, sembari membuka peluang beasiswa untuk melanjutkan studi doktoral.

Bagi Amalia, wisuda bukan garis akhir. Ia adalah titik koma—sebuah jeda sebelum melangkah lebih jauh. Di tengah riuh perayaan kelulusan, kisahnya menjadi pengingat bahwa terkadang, menunda bukan berarti menyerah. Justru di situlah mimpi menemukan jalannya.

Penulis
Azalea, Azis dan Kristiani
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU 1. Lulusan Mendapat Pekerjaan yang Layak