Universitas Negeri Yogyakarta menggelar Festival Ketoprak Mahasiswa pada Minggu, 17 Mei 2026 di Performance Hal Fakultas Bahasa Seni dan Budaya. Kegiatan budaya yang digelar dalam rangka dies natalis UNY tersebut menjadi salah satu upaya pelestarian seni tradisional sekaligus wadah kreativitas mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Festival ketoprak tersebut diikuti oleh lima perguruan tinggi, yaitu Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Negeri Surabaya. Masing-masing peserta menampilkan pertunjukan ketoprak dengan ciri khas dan kreativitas tersendiri.
Menurut Rektor UNY Prof. Sumaryanto Festival Ketoprak Mahasiswa nuansanya diubah dari kegiatan kemudian ditingkatkan menjadi kompetisi dengan bentuk festival dengan memperebutkan sejumlah penghargaan sesuai dengan tema Dies Natalis ke-62 UNY ‘Optimalisasi Prestasi Mewujudkan UNY Berdampak’. Kegiatan ini dibuka oleh Rektor dengan memukul keprak sebagai tanda dimualinya festival.
Perwakilan dari UNY sendiri dibawakan oleh mahasiswa yang tergabung dalam UKM KAMASETRA UNY dengan menampilkan lakon berjudul Kembang Alang-Alang. Pertunjukan tersebut mengangkat kisah sejarah dan strategi politik pada masa Kerajaan Mataram yang melibatkan Panembahan Senopati, Ki Ageng Mangir Wanabaya, dan Gusti Putri Pembayun.
Lakon Kembang Alang-Alang mengisahkan ambisi Panembahan Senopati untuk menyatukan Tanah Jawa di bawah kekuasaan Mataram, yang mendapat penolakan dari Ki Ageng Mangir Wanabaya, pemimpin Bumi Perdikan Mangir yang sakti dan menolak tunduk pada kerajaan. Atas saran Ki Juru Mertani, Panembahan Senopati tidak menyerang lewat peperangan, melainkan menggunakan strategi halus dengan mengutus Gusti Putri Pembayun menyamar sebagai penari tayub bernama Rante Mas untuk mendekati Ki Ageng Mangir.
Kisah ini memadukan intrik politik, strategi kekuasaan, pengorbanan, serta konflik batin dalam balutan budaya Jawa klasik, sekaligus merefleksikan nilai pelestarian budaya dan pendidikan karakter yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 4 (Quality Education) melalui edukasi budaya dan poin 11 (Sustainable Cities and Communities) dalam upaya menjaga warisan budaya lokal. Penampilan dari para mahasiswa UNY tersebut berhasil menarik perhatian penonton melalui penghayatan tokoh, tata busana tradisional, serta penggunaan bahasa Jawa yang kental dengan nuansa budaya Mataram. Antusiasme penonton terlihat sepanjang pertunjukan berlangsung.
Dewan juri yang menilai festival ini adalah Guru Besar FBSB UNY Prof. Soeminto A. Sayuti, Drs. Stevanus Prigel Siswanto, M.Hum (Dalijo Angkring), Alfianto Heriawan, Ki Murjono (pemain kendang Pangkur Jenggleng TVRI) dan seniman Sri Slamet Sumarwoto (Marwoto Kawer)
Dalam festival ini Universitas Negeri Semarang meraih juara harapan 2 dengan nilai 2100, Institut Seni Indonesia Yogyakarta meraih juara harapan 1 (2240), Universitas Negeri Surabaya meraih juara 3 (2360), Universitas Negeri Yogyakarta meraih juara 2 (2530) dan juara 1 adalah Institut Seni Indonesia Surakarta dengan nilai 2670.
Melalui Festival Ketoprak Mahasiswa ini, UNY berharap generasi muda semakin mencintai dan melestarikan kebudayaan daerah, khususnya seni ketoprak sebagai warisan budaya Jawa yang memiliki nilai historis dan edukatif.
English