Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bersama Western Sydney University (WSU), Australia, menyelenggarakan workshop bertajuk “(Poly)crisis in Indonesia: Understanding the Yogyakarta Paradox: Socio-Economic Dynamics, Happiness, and Mental Health” sebagai bagian dari program (Poly)Crisis, Cross-Cultural Responses & Resilience. Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara mahasiswa UNY dan WSU dalam memahami berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia dan Australia. Workshop ini sejalan dengan upaya mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals).
Workshop menghadirkan akademisi dari UNY sebagai salah satu narasumber yaitu, Pak Nanang, Ph.D. dan WSU yang membahas fenomena Yogyakarta Paradox, yaitu kondisi ketika masyarakat Yogyakarta menunjukkan tingkat kebahagiaan yang relatif tinggi meskipun masih menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi. Melalui pendekatan lintas budaya dan lintas disiplin, para peserta diajak untuk memahami konsep (poly)crisis, yaitu situasi ketika berbagai krisis seperti kesehatan mental, ketimpangan sosial, perubahan lingkungan, dan tantangan ekonomi saling berinteraksi dan memperkuat dampaknya. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari kedua universitas yang terlibat aktif dalam diskusi kelompok, refleksi kritis, dan berbagi perspektif mengenai pengalaman masing-masing negara.
Dalam sesi workshop, peserta membahas berbagai contoh krisis majemuk yang terjadi di Indonesia dan Australia selama satu dekade terakhir, termasuk dampaknya terhadap kelompok masyarakat yang rentan, peran pemerintah dan komunitas dalam merespons krisis, serta pentingnya pengetahuan lokal dan kearifan budaya dalam membangun ketahanan sosial. Melalui kegiatan kelompok yang mempertemukan mahasiswa UNY dan WSU, peserta secara kolaboratif menganalisis strategi mitigasi dan respons yang dinilai berkelanjutan serta sesuai dengan konteks budaya masing-masing negara. Salah satu fasilitator dari WSU menyampaikan bahwa pemahaman terhadap krisis tidak dapat dilakukan dari satu perspektif saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas budaya dan disiplin ilmu untuk menciptakan solusi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan ini menunjukkan relevansi yang kuat dengan SDG 3, SDG 4, SDG 10 (Reduced Inequalities), dan SDG 17 melalui penguatan kapasitas generasi muda dalam menghadapi tantangan global yang kompleks.
Melalui program kolaboratif seperti ini, UNY terus memperkuat komitmennya dalam mendukung implementasi SDGs melalui pendidikan, penelitian, dan kemitraan internasional. Diharapkan kegiatan bersama WSU dapat terus berkembang sebagai ruang pembelajaran global yang mendorong lahirnya gagasan inovatif, meningkatkan pemahaman lintas budaya, serta memperkuat kapasitas mahasiswa dalam membangun masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan di masa depan.
English