Menembus Jalur Langit, Rosnia Taklukkan LPDP

Pagi itu, lantai dua Masjid Imam Balki masih lengang. Rosnia Rahman sudah membuka laptopnya sejak pukul tujuh tepat. Kopi hitam mengepul di samping buku catatan penuh to-do list. Ia menulis esai sambil menahan kantuk yang datang bergelombang.

Perempuan kelahiran Ambon, 8 Agustus 1999, itu mahasiswa Bimbingan dan Konseling FIP, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia kini tercatat sebagai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Perjalanan itu berawal dari keresahan tentang biaya studi S2. Saat itu, ia belum memiliki dana untuk mendaftar. “Dinamika saya dimulai dari keresahan hati karena tidak punya biaya,” katanya. Ia memilih berpikir positif dan kembali mencoba jalur beasiswa.

Ia teringat pesan gurunya tentang makna perjuangan. “Beasiswa bukan untuk yang pintar, tetapi untuk yang mau berusaha,” ucapnya. Tekad itu membawanya ke Kampung Inggris Pare. Ia berangkat naik kapal dengan uang sekitar dua juta rupiah. Dari Ambon ia singgah di Makassar lima hari. Perjalanan dilanjutkan ke Surabaya, lalu travel menuju Pare.

Tiga bulan ia belajar speaking, vocabulary, dan pronunciation. Ia lulus TOEFL dengan skor memuaskan pada Agustus. Namun tahap substansi pertama tidak berjalan mulus. Esainya dinilai kurang mendalam dan risetnya belum kuat. “Jujur, tahap ini sangat menguras energi kami,” tuturnya. Ia lalu mengevaluasi diri dan menulis target progres harian.

Batch kedua menjadi momentum kebangkitan. Ia rutin belajar bersama komunitas di masjid dan perpustakaan. Setiap hari ia berjalan tiga kilometer demi fokus membaca. Ia juga memperkuat doa, sedekah, dan amalan tersembunyi. “Saya percaya 80 persen ikhtiar itu lewat jalur langit,” ujarnya. Sisanya adalah usaha maksimal yang tak boleh berhenti.

Kerja keras itu akhirnya berbuah kabar baik. Ia dinyatakan lolos sebagai penerima LPDP tahun 2024, kini ia sedang berusaha untuk menyelesaikan tesisnya.

Penulis
Kristiani Tandi Rani
Editor
Dedy
Kategori Humas
MBKM