Kolaborasi Internasional Hadirkan Lebih dari 100 Karya dalam ICo T•S•A•E (International Collaboration on Trans-Sensory Art Exhibition) di UNY

Lebih dari 100 karya seni dari berbagai negara hadir dalam ICo T•S•A•E (International Collaboration on Trans-Sensory Art Exhibition) di Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pameran yang dibuka pada 27 September tersebut berlangsung hingga 6 Oktober 2026 di Galeri Departemen Pendidikan Seni FBSB UNY.

Pameran ini tidak sekadar menjadi ruang apresiasi karya seni, tetapi juga menjadi wadah pertemuan gagasan, pertukaran budaya, serta pengembangan seni berbasis riset. Kolaborasi yang melibatkan seniman, akademisi, dan mahasiswa dari berbagai negara memberikan ruang bagi lahirnya perspektif baru dalam proses penciptaan karya.

Dekan FBSB UNY, Prof. Dr. Zulfi Hendri, S.Pd., M.Sn., mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai embrio konsep international exhibition. Menurutnya, pertemuan berbagai latar belakang dalam sebuah kolaborasi dapat memperkaya proses penciptaan karya karena setiap seniman membawa pengalaman dan perspektif yang berbeda. “Kita bukan melihat dari perspektif saja, tetapi sebagai embrio dari konsep exhibition internasional,” ujar Prof. Zulfi.

Ia menjelaskan karya yang ditampilkan tidak semata-mata mengandalkan keterampilan artistik, tetapi juga didukung proses riset dan kajian yang mendalam. Dengan pendekatan tersebut, karya seni diharapkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membawa gagasan dan pengetahuan yang dapat dipahami masyarakat.

Ketua kegiatan, Dwi Wulandari, S.Pd., M.A.Ed., M.Pd., menilai kolaborasi menjadi salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan pameran. Kolaborasi membuka koneksi dengan berbagai pihak, khususnya di kawasan Asia Tenggara, sekaligus menjadi ruang untuk membahas beragam isu melalui perspektif seni. “Kolaborasi menjadi hal paling penting guna memperoleh koneksi, terutama di negara Asia Tenggara terkait berbagai macam isu,” jelas Dwi.

Keberagaman latar belakang budaya menjadi salah satu kekuatan pameran. Menurut Prof. Zulfi, karya yang lahir dari proses kolaborasi tidak hanya merepresentasikan gagasan satu seniman, tetapi merupakan hasil pertemuan ide dan pengalaman dari berbagai budaya. Bahkan, karya yang telah ada dapat dikembangkan dan diolah kembali menjadi karya baru. “Keunikan ide dari berbagai orang yang beda budaya di situlah letak uniknya karena akan ada berbagai sudut pandang,” ungkapnya.

Pameran ini sekaligus menunjukkan perkembangan seni rupa yang terus mengikuti perubahan zaman. Seni tidak lagi terbatas pada medium konvensional seperti lukisan, tetapi berkembang melalui beragam medium, termasuk teknologi digital. “Seni rupa itu bukan cuma melukis, tetapi ada versi digital juga karena sudah ada era digital. Jadi seni juga berkembang terus,” tutur Prof. Zulfi.

Salah satu pengunjung, Andin, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa, mengaku memperoleh inspirasi baru setelah melihat karya dari berbagai daerah dan instansi. Ia menemukan beragam karya dua dimensi hingga tiga dimensi, termasuk instalasi dan lukisan.

ICo T‧S‧A‧E 2026 mengusung tema kuratorial “Saujana Sensorium”, yang mempertemukan praktik seni, kreativitas anak, serta luaran riset berbasis praktik dalam pengalaman seni yang multimodal dan transsensori. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan program publik dan akademik, antara lain opening ceremony, keynote/curatorial talk, artist/research talk, workshop, guided tours, dan panel co-host.

Selain pameran, kegiatan ini dirangkai dengan sejumlah agenda pendukung, seperti Art Talk, Curatorial Talk Show: Saujana Sensorium, Art-Based Research Talk, workshop, Student Sharing Session: Kumpulan Gayeng, dan UNY Alumni Sharing Session. Rangkaian tersebut mempertemukan mahasiswa, akademisi, seniman, serta mitra dari berbagai institusi dalam ruang diskusi dan pertukaran gagasan.

Prof. Zulfi berharap mahasiswa semakin terbuka terhadap kritik, gagasan, dan kolaborasi. Menurutnya, keterbukaan terhadap berbagai perspektif penting untuk mengembangkan kemampuan berkarya sekaligus membangun jejaring nasional dan internasional. “Kita berharap sekarang mereka memulai mengurangi ego personal untuk maju dan berubah, membuka diri dalam berkarya,” pungkasnya.

Penulis
Ismiatul Ma’rifah dan M. Azis Setiawan
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU 5. Hasil Kerja Dosen Digunakan oleh Masyarakat
IKU 6. Program Studi Bekerjasama dengan Mitra Kelas Dunia