Septaberlianto, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2021, resmi lulus dengan predikat cumlaude. Mahasiswa asal Bantul yang akrab disapa Septa ini menjadi salah satu contoh penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) yang berhasil memperoleh berbagai prestasi akademik dan nonakademik secara konsisten hingga akhir masa studi.
Septa mengaku, keputusannya mendaftar KIP-K dilatarbelakangi kondisi ekonomi keluarga. Saat itu, ibunya tidak bekerja dan tanggungan keluarga cukup banyak, sementara pendapatan sang ayah belum mencukupi untuk membiayai kuliah. “Saya mendaftar KIP-K karena memang membutuhkan untuk melanjutkan pendidikan. Kondisi keluarga saat itu belum memungkinkan jika harus membiayai kuliah secara mandiri,” ujarnya.
Kesempatan itu datang melalui pendaftaran KIP-K susulan. Merasa sesuai kriteria, ia memberanikan diri mendaftar dan dinyatakan lolos. Sejak saat itu, Septa memandang KIP-K bukan sekadar bantuan biaya. “KIP-K bagi saya adalah amanah. Itu dana dari masyarakat dan negara, jadi harus saya pertanggungjawabkan dengan prestasi dan hal-hal yang bermanfaat,” katanya.
Komitmen tersebut ia buktikan selama berkuliah. Septa mengikuti sekitar 70 kompetisi tingkat nasional dan 36 di antaranya berhasil meraih juara. Ia juga aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas sebagai bentuk pengabdian sekaligus pengembangan diri. Dana KIP-K yang diterimanya tidak hanya membantu meringankan UKT, tetapi juga menunjang kebutuhan lomba, organisasi, dan akademik.
Prestasi paling membanggakan ia raih pada Juni-Juli 2025, ketika mengikuti ajang internasional Global Innovation Sprint yang diikuti dari empat negara. Saat itu, ia juga tengah menyelesaikan skripsi. “Lombanya bersamaan dengan proses skripsi. Alhamdulillah saya mendapatkan satu medali emas dan satu medali perak,” tuturnya. Capaian tersebut membuatnya diundang sebagai Inspired Student dalam kegiatan PKKMB FBSB UNY 2025.
Semangat berprestasi sebenarnya sudah ia bangun sejak di SMAN 1 Srandakan. Ia aktif di ekstrakurikuler jurnalistik dan pernah menerbitkan sekitar 20 hingga 25 karya di Koran Merapi. Pada 2019, ia juga terpilih sebagai Duta Literasi Kabupaten Bantul. Ia juga berhasil lolos perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN, sebuah capaian yang cukup membanggakan bagi sekolahnya saat itu.
Namun, menjadi mahasiswa KIP-K tidak lepas dari tantangan. Septa harus menjaga IPK tetap di atas 3,50, mengelola keuangan dengan cermat, serta menghadapi stigma dari sebagian masyarakat. Ia mengaku kebiasaan menentukan skala prioritas, berani mencoba hal baru, serta mempersiapkan fisik dan mental menjadi kunci konsistensinya.
“KIP-K lebih dari sekadar mengubah hidup saya. Program ini mengajarkan saya bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan,” ungkapnya. Statusnya sebagai penerima KIP-K bahkan sempat menjadi nilai tambah saat ia lolos program magang, karena dinilai memiliki komitmen dan tanggung jawab tinggi.
Setelah lulus cumlaude pada Februari 2026, Septa berencana melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Ia berpesan kepada mahasiswa penerima KIP-K agar memanfaatkan kesempatan dengan sungguh-sungguh. “Pertanggungjawabkan dana yang diterima sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Jangan takut mencoba peluang dan rasakan manfaat dari KIP-K,” pesannya.
Ia pun berharap program KIP-K ke depan semakin tepat sasaran dan menjangkau lebih banyak mahasiswa yang membutuhkan. Perjalanan Septa menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi, selama ada tekad dan kesadaran untuk menjaga amanah.
English