Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta melalui kegiatan Eurasia Lecturer Series Vol. 2 Episode 4 menghadirkan diskusi filsafat yang membahas relasi antara pengetahuan dan kekuasaan dalam perspektif filsuf Prancis Michel Foucault. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Reza A.A. Wattimena dari Rumah Filsafat dan dilaksanakan di Aula Pascasarjana FISIP UNY.
Dalam pemaparannya, Reza mengawali diskusi dengan pertanyaan sederhana yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengapa tangan kanan dianggap lebih sopan daripada tangan kiri, mengapa laki-laki menggunakan celana dan perempuan menggunakan rok, serta mengapa guru berdiri di depan kelas sementara siswa duduk berbaris di belakang. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa banyak hal yang dianggap benar atau salah dalam masyarakat sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang diterima sebagai sesuatu yang wajar.
Reza menjelaskan bahwa pemikiran Michel Foucault tentang hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan merujuk pada dua karya pentingnya, yaitu The Archaeology of Knowledge dan Power/Knowledge. Kedua karya tersebut menjelaskan bahwa pengetahuan tidak pernah bersifat netral, tetapi selalu berkaitan dengan praktik sosial dan relasi kekuasaan. Pengetahuan berperan dalam membentuk cara berpikir, menentukan kebenaran, serta mengatur perilaku individu dalam masyarakat.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa tubuh manusia tidak pernah sepenuhnya bebas dari pengaruh pengetahuan. Pengetahuan berperan dalam mendisiplinkan tubuh melalui berbagai institusi sosial, salah satunya lembaga pendidikan. Melalui aturan, praktik, serta mekanisme yang ada di dalamnya, pendidikan menjadi ruang pembentukan perilaku dan kedisiplinan individu.
Dalam diskusi juga disampaikan bahwa kekuasaan tidak hanya berada pada institusi besar seperti negara, tetapi hadir dalam berbagai praktik kecil dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan seragam sekolah, kegiatan baris-berbaris, serta sistem evaluasi melalui ujian yang secara tidak langsung membentuk kedisiplinan tubuh dan perilaku siswa.
Selain dalam pendidikan, relasi antara pengetahuan dan kekuasaan juga terjadi dalam ranah media melalui proses pembingkaian informasi atau framing. Media memiliki peran dalam memengaruhi cara masyarakat memahami suatu peristiwa. Fenomena seperti cancel culture juga menunjukkan bagaimana masyarakat dapat secara kolektif menentukan batas-batas kebenaran, moralitas, serta identitas sosial yang diterima di ruang publik.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa pengetahuan tidak hanya berfungsi untuk menjelaskan realitas, tetapi juga merupakan bagian dari mekanisme sosial yang membentuk cara berpikir, perilaku, serta struktur kekuasaan dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong peserta untuk berpikir kritis dan menjadi individu yang merdeka dalam memahami berbagai konstruksi pengetahuan yang berkembang di masyarakat.
English