Aksi SAKAT sebagai Wujud Nyata Kontribusi Mahasiswa dalam Upaya Peningkatan Ketahanan Pangan Masyarakat Indekos

Sejumlah mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta melakukan aksi SAKAT alias Satu Kamar Satu Tanaman. SAKAT merupakan agenda kampanye satu kamar kos satu tanaman yang menargetkan lima rumah kos dengan melibatkan lebih dari sepuluh kamar beserta penghuninya dalam pelaksanaannya.

Satu Kamar Satu Tanaman diinisiasi oleh Andhiny Nur Zaharani, Devita Nur Madani, Luthviana Fadhilah Ahmad, Rasya Lathif Nayudha, dan Rizki Amelia. Kampanye ini dilaksanakan di rumah kos (indekos) mahasiswa sekitar kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kampung Kuningan, Karanggayam, Karangmalang.

“Mahasiswa kos dipilih sebagai sasaran karena dapat membantu menghemat pengeluaran, sekaligus memenuhi kebutuhan gizi. Mahasiswa kos biasanya mengatur kebutuhannya dengan budget yang terbatas, sehingga kampanye ini melatih mahasiswa untuk lebih mandiri, belajar bercocok tanam, dan memahami konsep ketahanan pangan sederhana. Selain itu, mahasiswa mudah menerima ide baru dan bisa menyebarkan kebiasaan baik ini ke lingkungan lain, jadi dampaknya bisa lebih luas,” ucap Luthviana selaku pelaksana kegiatan.

Adapun kegiatan SAKAT dimulai pada pukul 09.30 WIB hingga pukul 13.30 WIB. Setiap kunjungan berdurasi sekitar 45–60 menit dengan rangkaian kegiatan sosialisasi, demonstrasi menanam, dan peletakan tanaman di area kos sasaran.

“Gerakan kampanye ini penting dilakukan karena mendukung ketahanan pangan rumah tangga, lalu menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Aksi ini juga berkontribusi mewujudkan permukiman hijau dan berkelanjutan melalui aksi sederhana yang bisa dilakukan oleh siapa saja, dimulai dari mahasiswa kos,” tutur Rasya selaku eksekutor kegiatan dalam suatu wawancara.

Lebih dari itu, Andhiny selaku eksekutor bagian budidaya tanaman turut menjelaskan bahwa pelaksanaan kampanye SAKAT dimulai dengan fiksasi dengan konfirmasi kos mahasiswa yang menjadi sasaran program, dilanjutkan pembuatan leaflet edukasi dan pembelian alat bahan. Kegiatan utama berupa sosialisasi, pembagian bibit, dan penanaman untuk kemudian dilaksanakan langsung di lima rumah kos sasaran.

Tim projek mendatangi setiap kos sasaran untuk melakukan sosialisasi dengan membagikan dan menjelaskan leaflet panduan, sekaligus mendistribusikan bibit beserta perlengkapan tanamnya. Setiap pemilik kos menanam satu hingga dua tanaman sayur berupa pakcoy dan cabai menggunakan polybag yang telah disediakan. Pada tahap ini juga dilakukan monitoring awal untuk memastikan penanaman berjalan dengan benar.

Kampanye ini diadakan sebagai langkah kecil mahasiswa dalam upaya peningkatan ketahanan pangan dan konsumsi yang bertanggungjawab. Hal ini selaras dengan prinsip SDGs (Suistainable Development Goals) ke-2 dan ke-12, yakni Zero Hunger dan Responsible Consumption and Production. Tidak hanya itu, SAKAT juga secara tidak langsung menjadi wujud nyata implementasi SDGs ke-3 dan ke-11.

Good Health and Well-Being (SDG ke-3) menjadi salah satu tujuan SAKAT. Ia menegaskan kehidupan sehat dan sejahtera di seluruh jenjang usia. Tim SAKAT turut melangkah dalam meningkatkan pola hidup sehat dan sejahtera. Sebab, kegiatan menanam bibit pakcoy dan cabai ini menghasilkan produk makanan alami yang dapat diolah secara berkelanjutan.

Tidak hanya dari segi pemenuhan makanan sehat, adanya tanaman di area kos dapat menjadi sumber oksigen yang bagus untuk pemulihan ekosistem udara. Dengan demikian, SAKAT juga turut berkontribusi dalam SDG ke-11, berupa Suistainable Cities and Communities. Goals atau tujuan dari agenda ini salah satunya ialah menciptakan lingkungan pemukiman berkelanjutan.

“Sebagai salah satu pemilik kos, saya merasa program menanam tanaman di kos merupakan kegiatan yang sangat positif dan bermanfaat. Adanya tanaman dapat meningkatkan kesadaran saya akan pentingnya menjaga lingkungan dan merawat tumbuhan dengan rutin menyiram serta memeliharanya. Saya juga merasa senang dan antusias untuk mengikuti program ini karena dapat membuat lingkungan kos menjadi lebih hijau, nyaman, dan asri,” ujar Lia selaku mahasiswa kos sasaran program.

Penulis
Devita Nur M. dan Vicky Sa’adah
Editor
Dedy
Kategori Humas
IKU 2. Mahasiswa Mendapat Pengalaman di Luar Kampus