Wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode Agustus 2026 menjadi momen tak terlupakan bagi Meilani Yosi Kartika. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNY ini berhasil menyelesaikan studi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,81. Lebih dari sekadar pencapaian akademik, kelulusan tersebut ia persembahkan untuk kedua orang tuanya, Supriyono dan Sri Purwanti, penyandang disabilitas netra yang selalu menjadi sumber semangat dan doa dalam perjalanan pendidikannya.
Alumni SMK Negeri 1 Godean ini sempat menghadapi pilihan sulit setelah lulus sekolah. Kondisi ekonomi keluarga membuat sang ayah menyarankan agar Yosi langsung bekerja. Namun, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi begitu kuat.
Yosi kemudian berusaha meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dirinya dapat kuliah tanpa membebani keluarga karena akan mendapatkan beasiswa. “Bapak waktu itu menyuruh saya bekerja karena khawatir dengan biaya kuliah. Tetapi saya ingin sekali kuliah. Saya meyakinkan Bapak dan Ibu bahwa saya bisa kuliah secara gratis dengan beasiswa, sehingga mereka tidak perlu khawatir memikirkan biaya kuliah,” ungkap Yosi, Kamis (27/8/26).
Harapan tersebut menemukan jalan ketika salah seorang guru di SMK Negeri 1 Godean memberikan informasi mengenai program KIP Kuliah. Berbekal informasi itu, Yosi mempersiapkan diri mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi hingga akhirnya diterima di UNY sebagai penerima KIP Kuliah. Baginya, KIP Kuliah menjadi jalan penting untuk mewujudkan cita-citanya. Bantuan tersebut membuatnya dapat menjalani pendidikan tinggi tanpa terbebani biaya pendidikan sehingga lebih fokus menyelesaikan studi.
Awalnya, warga Sembuh Wetan, Godean, Sleman itu berencana memilih program studi yang berkaitan dengan administrasi perkantoran. Namun, setelah mempertimbangkan minat dan peluang yang dimiliki, ia akhirnya memilih PPKn UNY. Selama kuliah, Yosi juga aktif mengikuti kegiatan Himpunan Mahasiswa Program Studi. Hingga akhirnya, ia berhasil menyelesaikan studi dengan IPK 3,80.
Di balik keberhasilannya, dukungan kedua orang tua tidak pernah lepas. Supriyono dan Sri Purwanti, yang bekerja sebagai terapis, selalu memberikan semangat kepada putrinya untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan tinggi. “Bapak dan Ibu selalu mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah. Walaupun mereka tidak dapat melihat perjalanan saya selama kuliah, doa dan dukungan mereka selalu menjadi kekuatan terbesar,” tutur Yosi.
Karena itu, gelar sarjana yang diraihnya dipersembahkan kepada kedua orang tuanya. “Gelar ini saya persembahkan untuk Bapak dan Ibu. Saya ingin membuat mereka bangga dan membuktikan bahwa keputusan saya untuk kuliah tidak sia-sia,” katanya.
Setelah lulus dari UNY, Yosi ingin melanjutkan langkahnya di bidang pendidikan. Keinginan utamanya adalah mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk mewujudkan cita-cita menjadi guru PPKn. Atas dorongan dosen pembimbing skripsinya, ia juga mulai mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
Kisah Meilani Yosi Kartika menjadi salah satu gambaran bagaimana akses pendidikan tinggi dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas untuk meraih cita-cita. Melalui KIP Kuliah, UNY terus berupaya menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk berkembang dan menyelesaikan pendidikannya.
Kisah tersebut sejalan dengan komitmen UNY terhadap SDGs, khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, SDGs 10 tentang pengurangan kesenjangan, SDGs 5 kesetaraan gender dan SDGs 1 tentang pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.
English